Aku memandangnya dalam diam. Dia
juga memandangku dari jauh. Dia terpaku menatapku. Aku hanya berharap agar dia
tak berprasangka buruk. Tuhan, tolong.. aku hanya tak ingin dia membenciku.
Sebuah tatapan kaget, mendadak
berubah menjadi tatapan garang, dan kemudian, dia berpaling, dan pergi.
Oh
Tuhan, apa yang telah ku lakukan? Mengapa ia sangat membenciku sekarang? Apa
karena aku tak sepopuler teman-temannya sekarang? Atau karena apa? Karena aku..
culun?
Satu setengah tahun yang lalu..
Namaku Indi. Namanya Gladys. Kita
bersahabat. Rasanya, persahabatan kita tak akan musnah untuk selamanya. Kami
berjanji satu sama lain untuk selalu bersama. Suka duka telah kita lalui
bersama.
Dia selalu bercerita tentang
kehidupannya yang.. wow.. entahlah, sangat sulit dijelaskan. Namun yang pasti,
aku tau segalanya. Semua orang menyangka Gladys yang periang, populer, tinggi,
putih, cantik, selalu jadi pusat perhatian, selalu diimpikan oleh para cowok,
dan bak selebriti seperti ini tak pernah merasakan kesedihan sekecil apapun.
Semua berharap menjadi seperti dirinya yang nyaris sempurna. Namun kau tahu? Ia
tak pernah bahagia dengan apa yang ia miliki. Ia terlalu takut untuk menangis,
takut dikatakan serapuh para cewek cengeng.
Ia keturunan konglomerat – dan semua
orang tahu, ia tak perlu bersekolah ataupun membanting tulang untuk mencari
uang.
Sayang, dibalik semua yang ia
miliki, tak pernah ada yang tahu.. orangtuanya sangat sibuk. Nyaris tak pernah
memikirkannya ataupun mengurusnya. Kebutuhan Gladys hanya orangtuanya tunjang
dengan uang.. uang.. uang.. mereka salah. Gladys sangat butuh perhatian dari
kedua orangtuanya.
Tak jarang, Gladys menangis –
tertawa – berbicara hanya dengan dinding kamarnya. Hanya dinding kamarnya yang
senantiasa menemaninya dan menjadi saksi bisu. Gladys sangat memperhatikan
sikapnya di sekolah, dan bahkan, ia sangat memperhatikan harkat martabatnya dan
juga gengsinya yang terlampau besar, hingga suatu ketika ia bertemu denganku.
Dikelas satu kita memang sekelas,
namun kita hanya sebatas tahu nama. Dikelas dua, tak ada yang menyangka, hanya
kita dan para dua cowok yang sekelas lagi. Ia hanya duduk denganku. Ia belum
kenal siapa-siapa. Aku memang sangat terbuka dalam bergaul. Namun sayangnya,
tak semua orang mau terbuka bergaul denganku. Aku – culun – dan aku tahu itu.
Aku kutu buku, dan aku tahu itu. Aku tidak populer, dan aku tahu itu. Aku
kucel, dan aku tahu itu. Aku dari kelas menengah kebawah, dan aku tahu itu.
Namun, Gladys, mau berteman denganku.
Kita selalu duduk berdua, sekelompok
berdua, makan berdua, hingga orang yang dia suka menembaknya. Aku pikir ia akan
sedikit menjauh dariku, namun tidak. Dia bukan orang yang suka terlalu dekat
dengan pacarnya. Ia lebih nyaman berdua denganku ketimbang dengan pacarnya.
Benar-benar. Satu tahun yang indah
kita lalui bersama. Dalam satu tahun yang panjang – atau mungkin yang singkat –
itu, kita selalu berbagi canda tawa, suka duka, bahkan kita menangis bersama.
Kau tahu? Aku sangat bahagia. Ia selalu ada disampingku ketika semua orang
menjauhiku karna suatu masalah. Ia selalu mendukungku. Ia menyemangatiku. Ia
membantuku belajar – hingga semua nilaiku meningkat. Dan aku tahu, aku sadar,
bahwa dia tulus melakukannya.
Perlahan-lahan, sikap Gladys mulai
berubah. Awalnya dia angkuh. Dia pelit, pembohong besar, egois, gengsian, dan
nyaris semua hal yang buruk ia miliki. Dan aku sangat mengenalnya. Dan aku tak
bermasalah dengan sikap dia.
Dia jijik pada pengemis. Baginya,
pengemis itu kotor, jorok, malas, dan.. memuakkan! Gladys tak akan sudi
memberikan sedikit saja dari uangnya untuk para pengemis. Berbgeda denganku. Aku
sangat mengetahui dan dapat merasakan perasaan orang lain. Hatiku sungguh peka.
Dan aku lebih berpikir menggunakan hati. Ketika ada pengemis.. satu hal
terbersit dalam pikiranku.. bagaimana kalau aku jadi dia? Bagaimana jika aku
tak mampu lagi untuk bekerja? Bagaimana jika tak ada satupun orang yang mau
membantuku untuk makan? Bagaimana jika aku kelaparan? Dan aku tak punya uang? Ohh..
sudah pasti.. berapapun uang yang kumiliki, aku pasti akan memberikan sedikit
dari apa yang kupunya pada pengemis. Dan ketika Gladys melihatnya, wajahnya
menampakkan wajah jijik. Ia bingung dengan sikapku yang menurutnya begitu
baik.. dia menatap pengemis sebentar. Dengan ragu, ia menggenggam uangnya. Ia menatapku
sebentar. Aku mengangguk, menandakan setuju dengan apa yang hendak dia lakukan.
Gladyspun memberikan sedekah pada pengemis itu. Untuk yang pertama kalinya
seumur hidupnya. Kini, ia tak ragu lagi untuk memberikan sedikit uangnya untuk
bersedekah.
Sifatnya mulai berubah. Ia semakin
baik dimata semua orang. Aku bersyukur, Tuhan. Aku dapat mengubah hatinya yang
seperti batu dengan kasih. Kini, hatinya sudah mulai melembut.
Dia bilang, aku berbeda dari yang
lainnya. Dia bilang, semua orang hanya memanfaatkan kekayaan dan
kepopulerannya. Tahu tidak? Geng master di sekolahku mengajaknya untuk hang out
dengan Gladys malam minggu. Tahu, tidak? Geng master sampai tidak habis pikir,
karena Gladys lebih memilih denganku. Bahkan, geng master memaksanya untuk masuk
gengnya, dan meninggalkanku. Namun Gladys lebih memilihku.
Aku bahagia, sekaligus terharu.
Sahabatku sangat luar biasa membelaku. Bahkan, ketika kakak kelas melabrakku,
Gladys lah yang membelaku. Aku sampai menangis rasanya.
Namun, itu tak bertahan lama. Hanya
satu tahun.
Kelas tiga, aku dan Gladys terpisah.
Namun tak jarang, kita saling mengunjungi kelas satu sama lain. Tetap berbagi
suka dan duka, walau frekuensinya berkurang.
Beberapa bulan setelahnya, kita
bahkan masih menyempatkan diri untuk hang out.
Aku asik dengan hidupku, dia asik
dengan hidupnya. Kita semakin jarang berkomunikasi. Kita hanya sebatas say hi ketika bertemu. Kita terlalu
sibuk menjalani persiapan UN.
Akhirnya.. komunikasi kita putus
sama sekali. Ia tak pernah menyapaku lagi ketika bertemu denganku. Aku selalu
menunggunya. Menunggu dan berharap agar dia mau menyapaku.
Aku lelah. Kini saatnya aku
menyapanya. Aku tersenyum padanya ketika ia melewatiku, bersama teman-teman
populernya yang gila harta. Ia menatapku satu detik, kemudian berpaling begitu
saja. Rasanya, ada bongkahan besi yang menohok jantungku begitu saja. Aku
mencelos tak percaya. Aku menatap kepergiannya dari belakang. Aku masih dapat
melihatnya dari kejauhan, kemudian ia hilang begitu saja dibalik dinding
kantin. Berulang kali aku menyapanya. Namun, nihil.
Tak bosan-bosannya aku menyapanya,
hingga suatu ketika, ketika ia – masih – sedang berjalan dengan teman-teman
gaul dan populernya, aku menyapanya. Dan kau tahu? Siapa yang meresponku?
Teman-teman gaul dan populernya!
Kemana sahabatku pergi? Kemana
sahabatku yang selama ini ada untukku?
Hari kamis, rasa rinduku pada Gladys
memuncak. Kebetulan, aku ada perlu dengan Shilla, teman sekelas Gladys. Aku
bergegas pergi ke kelas Gladys. Aku sudah mau menagis, membayangkan aku akan
mengobrol lagi dengan Gladys. Dan aku berpikir, aku ingin memeluknya. Sahabat
ku yang sudah lama hilang. Kulihat, Gladys dan teman-teman gaul dan populernya
sedang berfoto dengan laptop salah satu temannya.
“Dys, lihat Shella gak?” tanyaku
pada Gladys yang sedah selesai berfoto. Aku bertanya dari ambang pintu. “Dys?”
tanyaku. “Gladys?” tanyaku sekali lagi. “Ada yang lihat Shella gak?”
“lagi yuk.. lagi.” Gladys berkata
pada temannya. Ia mengajak teman-temannya untuk berfoto lagi.
“Shella mana?” tanyaku.
Gladys menatapku dua detik, kemudian
berpaling.
“Gladys..” panggilku.
“Si Shella dikantin deh kayaknya.”
Jawab Michelle, teman Gladys.
“Dys..” aku memanggil Gladys untk
yang terakhir kalinya.
Gladys dan teman-temannya berpose.
Tuhan,
semoga aku hanya bermimpi. Ini.. apa ini? Sakit, Tuhan.. sakit. Kenapa
sahabatku, ya, Tuhan? Dia kenapa? Aku segera berlari ke toilet. Aku membanting pintu
toilet. Aku sudah tak peduli lagi bila ada yang mengatakan bahwa aku gila. Aku
menangis sejadi-jadinya. Aku tak menyangka. Sama sekali tak menyangka, Gladys,
yang selama ini kukenal baik, berubah. Aku benci untuk mengatakan ini.. namun
ini yang kurasakan, dan ini faktanya. Gladys
membenciku.
Empat hari sesudahnya, aku sedang
menunggu dijemput. Hari itu hujan hanya rintik-rintik, namun, angin begitu
kecang, hingga walaupun aku telah berteduh, aku tetap kebasahan. Dari jauh, aku
melihat Gladys. Ia sedang berbicara dengan Intan. Gladys menunjuk-nunjukku. Aku
menyapanya dari jauh. Intan membalas sapaanku. Namun Gladys hanya diam. Aku
pikir, aku juga bisa berteduh dikantin. Jadi, aku pergi ke kantin, dimana ada
Gladys. Dan setibanya aku disana, Gladys berjalan masuk menuju gerombolan anak
populer yang sedang bergosip. Ia meninggalkanku. Tuhan.. sakit..
Tak tahan disana, akupun
berbasah-basah kuyup lagi pergi ke tempatku tang semula. Tak apalah aku terkena
hempasan air hujan, asal Gladys tetap bisa mondar-mandir dengan tenang dikantin
tanpaku, jika itu yang dia mau. Sesaat, kami berpandang-pandangan.
“Astaga tuh anak , Si Gladys, bukannya
pulang malah main hujan-hujanan gitu. Udah jam segini, lagi. Bukannya pulang
dari tadi! Besok pasti gak masuk. Tuh anak kelewatan, ya!” Guru Bpku membuatku
berpaling dari Gladys.
“Bu, Gladys tadi habis latihan buat
ujian praktek. Dia udah ada disana dari tadi, sebelum hujan. Jadi, dia gak
hujan-hujanan, bu. Dia belum pulang, soalnya dia bilangnya pulangnya jam empat,
ternyata udah selesai dari tadi. Jadi dia bukan main gak jelas. Dia cuma nunggu
dijemput.” Aku berbohong pada guruku. Gladys memang cuma main. Dia gak latihan
apa-apa. Dia juga dari tadi hujan-hujanan. Dan dia emang cuma ngerumpi. Aku iat
dan sangat hafal mobilnya. Mobilnya udah parkir dari tadi. Aku cuma gak mau
Gladys dimarahin Bu Retno lagi. Bu Retno terlalu benci Gladys.
Bu Retnopun berlalu. Tiba-tiba,
dtang segerombolan anak basket. Mereka juga berteduk didekatku. Ehh, ada
mantannya Gladys.
“Lu belum di jemput, Di?” tanya
Alex, mantannya Gladys.
“Belum.” Jawabku. Aku memandang
Gladys, berharap dia tak melihatku mengobrol dengan Alex. Aku memandangnya
dalam diam. Dia juga memandangku dari jauh. Dia terpaku menatapku. Aku hanya
berharap agar dia tak berprasangka buruk. Tuhan, tolong.. aku hanya tak ingin
dia membenciku.
Sebuah tatapan kaget, mendadak
berubah menjadi tatapan garang, dan kemudian, dia berpaling, dan pergi.
Kau tahu kapan semua ini selesai?
Aku tak mengerti.. ia membenciku karena apa. Yang jelas, aku takkan
membencinya. Sekecil apapun, aku takkan membencinya. Ia terlalu berhaga untuk
dibenci. Sahabatku terlalu berharga untuk ku benci. Ia tak pernah pantas
mendapatkan kebencian.. walaupun.. It
feels like hell!
Miranti Wulandari 9C/20